Tim peneliti Indonesia berhasil mengembangkan teknologi bioremedial
yang bisa berguna untuk mengatasi pencemaran di laut. Teknologi
tersebut berupa kultur bakteri yang akan menyerap bahan
pencemar.Teknologi terbaru ini diperkenalkan kepada Menteri Kelautan
dan Perikanan, Fadel Muhammad pada acara temu nelayan di Pelabuhan
Perikanan Samudra Nizam Zachman, Muara Baru, Jakarta Utara.
"Saya kaget Indonesia bisa buat ini. Teknologi ini adalah hasil karya
anak bangsa dan pertama di dunia. Kalau berhasil, saya akan sebar
bakteri ini pertama kali di daerah Timor karena di sana sedang tercemar
lautnya," ujar Fadel.
Selain diterapkan di laut, teknologi bioremedial juga dapat diterapkan
di daerah genangan lumpur Lapindo. Bakteri-bakteri yang dibudidayakan
bisa memisahkan lumpur dan air sehingga dapat menjernihkan dan
menteralkan genengan lumpur tersebut.
"Mikroorganisme ini saat makan minyak menghasilkan semacam liur, nah
liur ini yang bisa digunakan untuk menyerap lumpur seperti lumpur di
Lapindo," ujar Edison Effendi, salah seorang peneliti bioteknologi dan
teknik lingkungan. Setelah lumpur terserap, daerah bekas genangan
lumpur dapat ditebar benih ikan.
Teknologi ini sudah dikembangkan sejak tahun 1998 oleh tim dari ITB
yang bekerja sama dengan Balai Penelitian Kementrian Kelautan dan
Perikanan. Bioremedial terdiri dari 100 macam bakteri dan
mikroorganisme yang berbentuk seperti serbuk gergaji yang disebar untuk
menyerap limbah minyak yang ada di permukaan laut. Dengan sendirinya
laut yang tercemar akan bersih. Setelah menyerap ampas minyak,
mikroorganisme ini bisa digunakan sebagai makanan ikan laut dan udang.
Proses dari ditaburkan hingga menyerap minyak dengan sempurna memakan
waktu kurang lebih 1 minggu.
KEUNTUNGAN
Ada sejumlah keuntungan efisiensi biaya / untuk bioremediasi, yang
dapat digunakan di daerah-daerah yang tidak dapat diakses tanpa
penggalian . For example, hydrocarbon spills (specifically, petrol
spills) or certain chlorinated solvents may contaminate groundwater ,
and introducing the appropriate electron acceptor or electron donor
amendment, as appropriate, may significantly reduce contaminant
concentrations after a long time allowing for acclimation. Sebagai
contoh, hidrokarbon tumpahan (khusus, bensin tumpahan) atau pelarut
diklorinasi tertentu dapat mencemari air tanah , dan memperkenalkan
akseptor elektron sesuai atau donor elektron perubahan sebagaimana
mestinya, secara signifikan dapat mengurangi kontaminan konsentrasi
setelah waktu yang lama memungkinkan untuk aklimatisasi. This is
typically much less expensive than excavation followed by disposal
elsewhere, incineration or other ex situ treatment strategies, and
reduces or eliminates the need for "pump and treat", a common practice
at sites where hydrocarbons have contaminated clean groundwater. Hal
ini biasanya jauh lebih murah dari penggalian diikuti oleh pembuangan
di tempat lain, insinerasi atau perlakuan ex situ strategi lain, dan
mengurangi atau menghilangkan kebutuhan untuk "pompa dan
memperlakukan", sebuah praktek umum di situs mana hidrokarbon telah
mengotori air tanah bersih.
BIOREMEDIAL, BASMI PENCEMARAN
Bioremedial
terdiri dari 100 macam bakteri dan mikroorganisme yang berbentuk
seperti serbuk gergaji. Serbuk ini kemudian ditabur pada media yang
tercemar. Pada kasus tumpahan minyak di laut. Proses menaburkan hingga
menyerap tumpahan minyak dengan sempurna kurang lebih 1 minggu.
Ketika teknologi bioremedial tersebut, menyerap minyak. Bakteri dan
Mikroorganisme yang ada akan menghasilkan semacam liur. Liur ini dapat
dimanfaatkan untuk memisahkan air dan lumpur, kata Edison Effendi,
salah seorang peneliti bioteknologi dan teknik lingkungan. Atau untuk
menjernihkan air.
Sehingga, fungsi calcium carbonat (CaCo3)dalam pengelolaan air bersih
dapat digantikan oleh teknologi bioremedial agar lebih aman untuk
dikonsumsi. Uniknya, setelah digunakan untuk menyerap tumpahan minyak
di laut. Serbuk ini dapat digunakan untuk pakan ikan laut dan udang.
BIOREMEDIASI IPB, NETRALKAN AIR ASAM TAMBANG
Dosen
Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan IPB, Dwi Andreas Santoso.
Mampu menetralkan air asam tambang, membersihkan limbah minyak bumi,
atau limbah yang mengandung merkuri dan fenol. Melalui teknologi baru
untuk memulihkan lingkungan yang tercemar,bioremediasi.
Air Asam Tambang (AAT) adalah istilah umum yang digunakan untuk
menyebutkan lindian, rembesan atau aliran yang telah dipengaruhi oleh
oksidasi alamiah mineral sulfida yang terkandung dalam batuan yang
terpapar selama penambangan.
Untuk menganggulangi air asam tambang ini biasanya menggunakan active
dan passive treatment, yang masing-masing memiliki metode-metode
sendiri. Salah satunya teknologi bioremediasi.
Dengan teknologi remediasi. Biaya bisa dihemat antara 25%-50% dibanding
teknologi bioremediasi lainnya. Khusus untuk detoksifikasi merkuri,
teknologi yang ditemukan Andreas mampu menurunkan merkuri dalam limbah
hingga 98,5% dalam waktu 30 menit. “Teknologi ini sudah teruji
keefektifannya dan sudah didaftarkan IPB untuk memperoleh paten,” kata
Andreas.
Secara teknis, limbah minyak bumi bisa dibersihkan menggunakan bakteri
Bacillus sp. ICBB 7859. Sementara limbah merkuri bisa menggunakan
Pseudomonas pseudomallei ICBB 1512. Sedangkan fenol menggunakan khamir
Candida sp. ICBB 1167 dan Pseudomonas sp kata Andreas.
Dalam bidang pertanian. Teknologi ini pernah diujicobakan di Lembang.
Pada daerah persawahan yang tercemar oleh limbah pabrik tekstil yang
mengandung kadmium. Unsur beracun terberat kedua setelah merkuri.
Setelah dibioremediasi dilakukan. Dalam hitungan minggu, persawahan pun
kembali dapat ditanami padi. “Pada daerah tercemar, agar lingkungan
kembali pulih, bisa menggunakan bakteri Desulfotomaculum orientis ICBB
1204,” imbuh Andreas.
Categories:
teknologi



sangat bermanfaat. salam ilmiah. farhan.nafisah
:)